Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu dilahirkan pada tahun ke-7 kenabian. Saat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam wafat, ia baru berumur 17 tahun. Ayahnya adalah seorang bangsawan kaya dan terpandang bernama Amru bin Ash. Abdullah masuk Islam lebih dulu dari ayahnya. Ia tumbuh menjadi pemuda yang giat menjalankan berbagai ritual ibadah sunah dan membaca Alquran. Ia hafal Kitabullah secara utuh, 30 juz dan biasa mengkhatamkannya dalam sehari.
Abdullah telah ditakdirkan Allah menjadi seorang suci dan rajin beribadah. Tak satu pun kekuatan di dunia ini yang mampu menghalangi terbentuknya bakat yang suci ini dan tertanamnya cahaya Ilahi dalam dirinya.
Apabila tentara Islam maju ke medan laga untuk menghadapi orang-orang musyrik yang melancarkan peperangan dan permusuhan, maka ia akan dijumpai berada di barisan terdepan. Ketika perang telah usai, ia akan ditemui di mana lagi, kalau tidak masjid atau mushola rumahnya. Ia berpuasa di waktu siang dan mendirikan shalat di waktu malam. Lidahnya tak kenal akan percapakan soal dunia, walaupun yang tidak terlarang. Sebaliknya, lidahnya tiada henti berdzikir kepada Allah, bertasbih dan memuji-Nya.
Ketika kebanyakan orang masih buta huruf, Abdullah bin Amr sudah mahir baca-tulis. Ia memiliki kebiasaan yang tidak umum dilakukan oleh para shahabat yaitu mencatat sabda-sabda Rasulullah SAW. Abdullah melakukannya dengan tujuan untuk memudahkan dirinya dalam menghafal hadits-hadits Rasulullah SAW.
Sebenarnya Rasulullah pernah melarang para shahabat mencatat sabda-sabda beliau karena dikhawatirkan akan tumpang tindih dengan ayat-ayat Alquran. Tetapi kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus menugaskan beberapa shahabat untuk mencatat firman-firman Allah dan Abdullah bin Amr tidak termasuk di dalamnya. Dengan begitu, tidak ada lagi kemungkinan ayat Al-Quran tercampur dengan hadits.
Beberapa shahabat pernah pula berkomentar terkait kebiasaan Abdullah bin Amr menulis hadits. Mereka mengatakan, “Rasulullah juga manusia biasa, terkadang beliau marah, dan dalam marahnya ini beliau mengatakan sesuatu. Terkadang beliau hanya bercanda dengan ucapannya. Karena itu jangan engkau mencatat apa saja yang beliau sabdakan!”
Menerima masukan demikian, Abdullah bin Amr sempat menghentikan kebiasaan menulisnya. Tapi karena sudah menjadi kebiasaan baginya, serasa ada yang kurang bila ia tak mekakukannya. Maka ia menghadap Rasulullah SAW dan berkonsultasi perihal ini.
Ternyata Rasulullah tidak memersoalkannya, bahkan mendorong pemuda itu untuk melanjutkan kebiasaan menulisnya. “Teruskanlah menulis, demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, setiap perkataanku adalah kebenaran, walaupun aku dalam keadaan marah, ataupun aku dalam keadaan senang!”
Abu Hurairah RA juga pernah mengomentari Abdullah bin Amr. Ia mengatakan, “Di antara para sahabat, tidak ada yang menyamaiku dalam menghafal hadits Nabi kecuali Ibnu Amr bin Ash. Karena ia selalu mencatat apa saja yang disabdakan Nabi, sedang aku hanya mengandalkan ingatan saja.”
Walau dibesarkan di tengah keluarga bangsawan kaya raya, Abdullah bin Amr radhiyallahu anhu memiliki jiwa yang zuhud. Kenikmatan duniawi baginya hal yang sangat sepele dan jangan sampai melalaikannya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika ayahnya berkunjung ke kediamannya beberapa hari setelah pernikahannya, Amr bin Ash menanyai menantunya.
“Bagaimana keadaan kalian?” Sapa Amr bin Ash.
“Sungguh aku tidak mencela akhlak dan keshalihannya. Tetapi sepertinya ia tidak membutuhkan seorang wanita di sisinya,” jawab istri Abdullah.
Maka Rasulullah memanggilnya, dan menasehatinya agar tidak berlebihan dalam beribadah. Rasulullah bertanya, "Kabarnya engkau selalu puasa di siang hari tak pernah berbuka, dan shalat di malam hari tak pernah tidur? Cukuplah puasa tiga hari seiap bulan!"
Abdullah berkata, "Saya sanggup lebih banyak dari itu."
Kalau begitu cukup dua hari dalam seminggu."
"Aku sanggup lebih banyak lagi."
"Jika demikian, lakukan puasa Nabi Daud. Yaitu puasa sehari lalu berbuka sehari."
Pada saat terakhir, Rasulullah menasihatinya agar tidak berlebih-lebihan dalam beribadah sambil membatasi waktu-waktunya. Amr bin Ash, Ayahnya, kebetulan hadir. Rasulullah mengambil tangan Abdullah dan meletakkannya di tangan Ayahnya. "Lakukanlah apa yang kuperintahkan, dan taatilah Ayahmu!" pesan Rasulullah SAW. Dan sepanjang usianya, Abdullah tidak lupa akan kalimat pendek itu, "Lakukanlah apa yang kuperintahkan, dan taatilah Ayahmu!"
Begitu pula dalam khataman Alquran, mulanya Rasullah SAW menyarankan agar dalam sebulan sekali khatam. Setelah Abdullah menawar, beliau menyarankan 20 hari sekali, tapi masih ditawar lagi. Lalu beliau menambah menjadi 10 hari sekali. Ditawar lagi, jadi sepekan sekali. Tapi bagi Abdullah masih kurang tinggi. Akhirnya beliau menetapkan batas maksimal tiga hari sekali (atau dalam riwayat lain, lima hari sekali), dengan catatan tidak ada larangan untuk lebih dari itu.
Sebagai umat Islam kita tahu bahwa sesuatu yang berlebihan itu bukanlah perbuatan baik.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Maidah ayat 77 yang artinya:”Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.”
Maka ketika Abdullah berusia lanjut, tulangnya menjadi lemah. Ia menyesal mengapa dulu tidak melaksanakan keringanan Rasulullah.
Ketika terjadi Perang Shiffin (perang antara Ali dan Muawiyah), Amr bin Ash berpihak kepada Muawiyah. Dia pun mengajak Abdullah untuk turut serta bersamanya membela Muawiyah. Abdullah berangkat demi ketaatannya terhadap sang ayah. Namun ia berjanji tidak akan pernah memanggul senjata dan tidak akan berperang dengan seorang Muslim pun.
Pada suatu hari, ketika ia sedang duduk-duduk dengan beberapa sahabatnya di Masjid Rasul, lewatlah Husein bin Ali bin Abi Thalib. Mereka pun bertukar salam. Setelah Husein pergi, Abdullah berkata kepada orang-orang di sekelilingnya, "Sukakah kalian aku tunjukkan penduduk bumi yang paling dicintai oleh penduduk langit? Dialah yang baru saja lewat di hadapan kita tadi, Husein bin Ali. Semenjak Perang Shiffin, ia tak pernah berbicara denganku. Sungguh ridhanya terhadap diriku, lebih kusukai dari barang berharga apa pun juga."
Abdullah berunding dengan Abu Said Al-Khudri untuk berkunjung kepada Husein. Akhirnya mereka bertemu di rumah Husein. Abdullah bin Amr terlebih dahulu membuka percakapan. Husein mengalihkan pembicaraan ini sambil bertanya, "Apa yang membawamu hingga kau ikut berperang di pihak Muawiyah?"
Abdullah menjawab, "Pada suatu hari, aku diadukan Ayahku menghadap Rasulullah SAW. Kata Ayahku, Abdullah ini puasa setiap hari dan beribadah setiap malam.' Rasulullah berpesan kepadaku, 'Hai Abdullah, shalat dan tidurlah, serta berpuasa dan berbukalah, dan taatilah Ayahmu!' Maka sewaktu Perang Shiffin itu, Ayahku ingin aku ikut bersamanya. Aku pun pergi, tetapi demi Allah aku tidak pernah menghunus pedang, melemparkan tombak atau melepaskan anak panah!"
Tatkala usianya mencapai 72 tahun, ia sedang berada di musholanya, beribadah dan bermunajat. Allah memanggilnya menyusul mereka yang telah mendahuluinya.